Puasa Sebagai Disiplin Rohani

Artikel

Written by:

Puasa sebagai disiplin rohani. Jawab Yesus kepada mereka:”Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berpuasa sedang mempelai itu bersama mereka? Selama mempelai itu bersama mereka, mereka tidak dapat berpuasa.” -Markus 2:18-22.

Puasa merupakan salah satu kewajiban agama yang dipraktekkan bangsa Israel. Alkitab mencatat praktek puasa yang dilakukan Musa (Kel 24:16 dan Kel 34:28), Daud (2 Sam 12:16), Elia (1 Raj 19:8), Ester (Est 4:16), Daniel (Dan 9:3), orang Niniwe (Yunus 3:7), Tuhan Yesus (Mat 4:2), Yohanes Pembabtis (Mat 11:18), dan Jemaat mula-mula (Kis 13:2-3). Tentu puasa yang dilakukan dengan niat dan tujuan yang berbeda. Hakikatnya, mohon pertolongan Allah, merendahkan diri dan kesiapan rohani dalam melayani.

Praktek Puasa

Praktek puasa seringkali disalahpahami dengan memberikan penilaian kepada mereka yang tidak berpuasa sebagai orang dengan kadar kerohanian rendah. Penilaian negatif demikian tertuju juga kepada murid-murid Yesus yang nyata-nyata tidak berpuasa seperti murid-murid Yohanes dan murid-murid orang Farisi.

Puasa sebagai prilaku berpantang makan, minum dan menyelaraskan diri dengan kehendak Allah, hendak dipaksakan kepada murid-murid Yesus. Tuha Yesus sendiri tidak mewajibkan murid-murid-Nya berpuasa, sebab kehadiran-Nya sudah menjadi jaminan bahwa murid-murid-Nya sedang terlibat dalam tugas pemberitaan Injil. Tuhan Yesus berada bersama murid-murid-Nya dan mereka hanya mentaati apa yang Ia perintahkan.

Puasa Sebagai Disiplin Rohani

Gereja-gereja tertentu mendisiplinkan anggotanya dengan berpuasa seperti saat menghadapi minggu-minggu prapaskah atau terkait oergumulan internal. Puasa sebagai disiplin rohani menjadi berkat bagi yang melakukannya, jika selama puasa yang dipikirkan bukan soal menu berbuka melainkan kebenaran firman Tuhan dan waktu berdoa yang semakin meningkat.

Puasa sebagai latihan rohani bukan untuk dipamerkan supaya orang lain tahu puasa kita. Jika begitu puasa sudah kehilangan maknanya. Dengan berpuasa, kita menundukan keinginan kita dan mendahulukan kehendak Allah atas apapun yang kita mau rancangkan dan perbuat.

 

Sumber artikel – Sabda Bina Umat

Comments are closed.